Ad-Da’watu Waludatun

9 Komentar

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Puluhan tahun yang lalu, langkah-langkah harakah di sini, di Indonesia, sunyi sepi. Illa ma’allah, kecuali bersama Allah. Mengayunkan kaki seorang diri. Beberapa waktu kemudian dilakukan ta’sis haraki atau ta’sis amali. Dalam ta’sis tanzhimi waktu itu, kita hanya berkumpul empat orang. Kita hanya duduk lesehan, bukan di hotel. Dari hanya empat orang, sekarang di level qiyadah saja sudah ada ratusan orang.

Saya menjadi yakin, kata-kata dari salafu-shalih dalam dakwah ini yang mengatakan, “Ad-Da’watu Waludatun.”, bahwa dakwah ini sangat mudah beranak pinak. Sangat subur dan mudah berketurunan.

Lihat saja ikhwan dan akhwat yang bergabung dalam dakwah ini, secara biologis pun jumlah anaknya lumayan. Saya kira secara nasional keluarga kita ‘paling berprestasi’, lima, delapan, sepuluh, atau tiga belas orang anak. Ini salah satu indikator bahwa “Ad-Da’watu Waludatun.”, bahwa dakwah ini sangat subur melahirkan generasi baru. Bahkan secara biologis lebih dulu dibuktikan oleh Allah SWT secara ‘a’iliyah thabi’iyyah.

 

Lagi

Sya’ban Bulan Persiapan

Tinggalkan komentar

Dalam menyambut bulan Ramadhan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersiapkan dirinya sejak bulan Sya’ban. Beliau sambut Ramadhan dengan berbagai persiapan baik secara praktis maupun mental.

Persiapan praktis yang dilakukan Nabi adalah dengan memperbanyak puasa. Usamah bin Zaid berkata bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, saya tidakmelihat Anda berpuasa (di bulan-bulan lain)seperti Anda berpuasa di bulan Sya’ban.” Rasulullah menjawab, “Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang sering dilupakan manusia, padahal ia adalah bulan dimana amal-amal diangkat kepada Allah Rabbul ‘alamin. Karena itu aku ingin amalku diangkat kepada Allah dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. Imam An-Nasa’i).

Lagi

Mengenal Mohammad Natsir

6 Komentar

Politisi dan da’i sejati. Itulah sebutan yang nampaknya tidak berlebihan jika disematkan pada sosok laki-laki pejuang Islam: Mohammad Natsir. Ia lahir di kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatra Barat, 17 Juli 1908. Ayahnya Idris Sutan Saripado adalah pegawai juru tulis kontrolir di kampungnya. Ibunya bernama Khadijah. Ia dibesarkan dalam suasana kesederhanaan dan dilingkungan yang taat beribadah.

Laki-laki Pintar dan Cerdas

Natsir mulai menuntut ilmu tahun 1916 di HIS (Holland Inlandische School) Adabiyah, Padang kemudian pindah di HIS Solok. Sore hari  belajar di Madrasah Diniyah dan malam hari mengaji ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab.

Lagi

Ri’ayah Dakwah

6 Komentar

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.

Untuk menjamin nishabul baqa (angka atau quota yang aman bagi eksistensi gerakan dakwah), qudratu ‘ala tahammul (kemampuan memikul beban / tanggung jawab), dan hayawiyatul harakah (dinamika gerakan); perlu dilakukan ri’ayah da’wah, yang meliputi:

Ri’ayah Tarbawiyah

Ini sangat penting sebagai basis dari sebuah program.  Sebuah recovery tarbiyyah. Walaupun kita juga harus tawazzun (seimbang), dalam arti, sering saya ingatkan bahwa kita ini harakah Islamiyah bukan harakah tarbawiyyah. Walaupun kita faham bahwa tarbiyah itu bukan segala sesuatu dalam jamaah ini—karena ia hanya juz’iyyatul ‘alal amal islami, tapi dia sangat menentukan segala sesuatu. Makanya jangan lalai dalam tarbiyah ini.  Saya pun bertanggung jawab jangan sampai terjadi tawaruth siyasi (larut dalam dunia politik).

Lagi

GENERASI CINTA DUNIA DAN TAKUT MATI

8 Komentar

 يُوْشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُم الأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا” اَوَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: “بَلْ اِنَّكُمْ يَوْمَئِذٍكَثِيْرُوْنَ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَيْلِ، وَقَدْ نَزَلَ بِكُمُ الْوَهْنُ” قِيْلَ: وَمَا الْوَهْنُ يَارَسُوْلَ اللّهِ ؟ قَالَ: “حُبُّ الدُنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Akan datang suatu masa umat lain akan memperebutkan kamu ibarat orang-orang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan.” Sahabat bertanya, “Apakah lantaran pada waktu itu  jumlah kami hanya sedikit Ya Rasulullah?”. Dijawab oleh beliau, “Bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas laut, dan dalam jiwamu tertanam kelemahan jiwa.” Sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud kelemahan jiwa, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati!”. (HR. Abu Daud).

Lagi

Al-Qur’an Ruh Kebangkitan Ummat

Tinggalkan komentar

Generasi para sahabat Nabi disebut sebagai generasi manusia terbaik yang pernah terlahir di dunia ini sepanjang sejarah manusia (khaira ummatin ukhrijat linnas). Asy-syahid Sayyid Quthub dalam Ma’alim fi at-thariq, menjuluki generasi Muslimin itu sebagai “Al-Jiilul-Qur’any Al-Fariid” (generasi Qur’ani yang unik).

Dalam Al-Qur’an wa tafsiruhu disebutkan bahwa munculnya generasi seperti ini setidaknya karena tiga faktor utama yaitu: Pertama, materi Al-Qur’an yang membawa nilai-nilai yang luhur. Kedua, sosok Nabi Muhammad yang paripurna sebagai pembawa amanat ilahi. Ketiga, panduan dari Allah yang selalu menyertai Nabi Muhammad dalam berdakwah. Tiga hal pokok inilah yang menjadikan agama Islam berkembang dengan sangat pesat di seluruh pelosok negeri dalam waktu yang relatif sangat singkat dalam sejarah dakwah para nabi.

Lagi

Memahamkan Buah Hati tentang Konsep Diri

Tinggalkan komentar

Oleh : Miarti

(Direktur ZAIDAN Tutorial Preschool Bandung)

Pembaca setia. John Lock mengatakan bahwa setiap bayi lahir ke dunia dalam keadaan bagai kertas putih bersih. Terkait hal ini, sabda Rasul memberitahu kita bahwa keberadaan anak dengan segala predikatnya, baik predikat kesholehan maupun predikat kejahiliyahan akan ditentukan oleh upaya orangtua. Karena yang akan pertama kali menggiring seorang anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang Islami, Yahudi maupun Majusi adalah orangtua. Yang akan pertamakali mengantarkan anak untuk menjadi pribadi yang normatif atau destruktif (merusak) juga adalah orang tua. Dan yang akan pertamakali menanamkan idealisme adversitas (ketangguhan) maupun apatisme (keputusasaan) adalah orangtua pula.  Jadi, orangtualah yang sangat berpengaruh memberikan input-input kebenaran, kebiasaan dan idealisme.

Lagi

Older Entries