Oleh : Miarti

(Direktur ZAIDAN Tutorial Preschool Bandung)

Pembaca setia. John Lock mengatakan bahwa setiap bayi lahir ke dunia dalam keadaan bagai kertas putih bersih. Terkait hal ini, sabda Rasul memberitahu kita bahwa keberadaan anak dengan segala predikatnya, baik predikat kesholehan maupun predikat kejahiliyahan akan ditentukan oleh upaya orangtua. Karena yang akan pertama kali menggiring seorang anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang Islami, Yahudi maupun Majusi adalah orangtua. Yang akan pertamakali mengantarkan anak untuk menjadi pribadi yang normatif atau destruktif (merusak) juga adalah orang tua. Dan yang akan pertamakali menanamkan idealisme adversitas (ketangguhan) maupun apatisme (keputusasaan) adalah orangtua pula.  Jadi, orangtualah yang sangat berpengaruh memberikan input-input kebenaran, kebiasaan dan idealisme.

Baik pendapat John Lock maupun sabda Rasulullah Saw, keduanya bisa diinterpretasikan bahwa setiap anak hadir dengan berjuta kepolosan. Setiap anak terlahir tanpa mengetahui akan hak dan tanggung jawab, tanpa menyadari akan keharusan dan kebebasan, tanpa memaknai akan bahaya dan keselamatan, tanpa memahami akan siksa dan pahala, tanpa menyadari akan bagaimana seharusnya menjadi orang yang berhasil, tanpa menyadari akan bagaimana seharusnya menjadi orang yang getol beribadah, tanpa mengetahui sedikitpun tentang bagaimana memperlakukan orang dengan santun, tanpa mengetahui tentang arti pentingnya mempunyai cita-cita.

Dan seorang anak adalah sebuah entitas dunia yang tak ternilai harganya. Betapapun ia terlahir dengan sejuta kepolosan, namun ia terlahir dengan kapibilitas  otak yang luar biasa, yang kelak akan mencerna dunia dengan segala isinya. Seiring masa dan beragam upaya dari orangtua, sang anak akan terus mengalami lesatan-lesatan dahsyat dalam otaknya. Sang anak akan melewati spontanitas-spontanitas mengagumkan yang membuat syarap-syarap otaknya bertaut dan terus bertaut. Namun otak tidak bisa begitu saja menjadikan seorang anak sempurna kalau tanpa ada interaksi progressif yang disebut dengan BELAJAR. Selain itu, anak juga tidak akan serta merta menjadi pribadi yang MASAGI (bahasa sunda, red.) kalau hanya mengandalkan simulasi-simulasi yang bersifat kognitif seperti daya nalar, belajar tentang alam dan konsep hitungan. Karena kehebatan intelektual tidak akan bermakna apa-apa bila tak digandeng dengan apa yang disebut norma, nilai (value), keyakinan, tanggungjawab, dan ranah-ranah lain yang tergolong afeksi. Layaknya langit malam yang memesona, keindahannya tidak simetri begitu saja tanpa sinergitas yang cantik dan menarik antara matahari yang tenggelam dengan jadwal yang terstruktur, kinerja bintang yang gemerlapan menghiasi malam, dan  bulan yang memancarkan sinar tanpa beban. Itulah pertautan antara hebatnya otak manusia dengan pentingnya konsep diri.

Konsep diri ibarat energi yang bisa menggerakkan setiap jiwa untuk berdaya dan mampu mengaktualisasikan diri. Lebih jauh legi, konsep diri ibarat pilihan telak yang niscaya untuk dimiliki. Karena dalam Islam, manusia akan dihdapkan pada muara dimana pilihannya hanya ada dua. Surga atau neraka. Maka konsep diri yang kita tanamkan pada seorang bayi sekalipun, merupakan bekal optimal yang akan menentukan nasib di akhirat kelak. Dan konsep diri tidak akan begitu saja tertanam pada diri seorang anak. Dan lagi-lagi alasannya adalah karena setiap anak terlahir dalam kondisi tidak mengenal sama sekali apa yang disebut dengan konsep diri. Berikut beberapa kondisi kontradiktif yang menggambarkan polosnya seorang bayi dengan realitas harapan orangtua yang mengangkasa.

  • Setiap bayi tidak pernah meminta untuk menjadi juara, betapapun orangtuanya berharap besar untuk menjadi anak yang prestatif.
  • Setiap bayi tidak pernah memohon agar dirinya menjadi seorang pemimpin, betapapun orangtuanya sangat berekspektasi agar kelak sang anak menjadi orang nomor satu.
  • Setiap bayi tidak pernah merengek agar dirinya menjadi seorang ahli, betapapun orangtuanya memiliki impian tinggi agar di kemudian hari sang anak bisa menjadi pemikir sejati.
  • Setiap bayi tidak pernah bermimpi untuk menjadi konglomerat, betapapun orangtuanya berharap besar untuk menjadi orang yang kelebihan harta dan bisa membeli apa saja.

Karena demikian polosnya seorang anak, maka mengajari, memberitahu dan memahamkan seorang anak adalah tanggungjawab orangtua. Mulai dari tetek bengek cara memegang sendok atau memasang sepatu, sampai persoalan prinsip seperti bagaimana cara berteman dan bersosialisasi (hablumminannas) serta kewajiban beribadah mahdah (hablumminallah). Termasuk mengajarkan anak tentang konsep diri.

Mengapa harus, konsep diri kita tanamkan pada buah hati kita? Karena ada satu hal yang tak bisa kita bantahkan yaitu tentang cita-cita. Tentang keberhasilan. Tentang kesuksesan. Tentang masa depan. Masa depan seseorang sangat mustahil untuk bisa gemilang begitu saja tanpa adanya upaya-upaya cerdas yang berpadu dengan kepribadian positif yang mengkarakter. Keberhasilan tak mungkin diraih begitu saja tanpa adanya sinergitas antara kemauan, kesungguhan dan positif thinking (berbaik sangka kepada Allah dan sepenuh hati meyakini bahwa kekuatan dahsyat itu ada di tangan Allah). Maka tak heran bila ada orang yang terlanjur mengklaim dirinya miskin, hanya karena mereka tidak pernah mau membuka diri untuk keluar dari zona pikiran yang terpasung itu. Padahal sejatinya, apa yang terjadi adalah output dari apa yang kita pikirkan. If you think you can, is you can. Siapapun sangat layak untuk kaya. Siapapun sangat layak untuk dikatakan hebat. Siapaun sangat layak untuk memiliki harga diri. Siapapun berhak memiliki masa depan.

Konsep diri tidak saja diperlukan oleh orang dewasa. Melainkan untuk buah hati kita pun sangat penting. Dan sekali lagi, konsep diri itu tidak dilahirkan. Konsep diri bukanlah hereditas yang akan menentukan  pewarisan kepribadian dari orangtua kepada seorang anak. Allohu ‘alam bish showaab.