Memahamkan Buah Hati tentang Konsep Diri

Tinggalkan komentar

Oleh : Miarti

(Direktur ZAIDAN Tutorial Preschool Bandung)

Pembaca setia. John Lock mengatakan bahwa setiap bayi lahir ke dunia dalam keadaan bagai kertas putih bersih. Terkait hal ini, sabda Rasul memberitahu kita bahwa keberadaan anak dengan segala predikatnya, baik predikat kesholehan maupun predikat kejahiliyahan akan ditentukan oleh upaya orangtua. Karena yang akan pertama kali menggiring seorang anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang Islami, Yahudi maupun Majusi adalah orangtua. Yang akan pertamakali mengantarkan anak untuk menjadi pribadi yang normatif atau destruktif (merusak) juga adalah orang tua. Dan yang akan pertamakali menanamkan idealisme adversitas (ketangguhan) maupun apatisme (keputusasaan) adalah orangtua pula.  Jadi, orangtualah yang sangat berpengaruh memberikan input-input kebenaran, kebiasaan dan idealisme.

Lagi

Iklan

Menjaga Karamah Basyariyah

Tinggalkan komentar

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra, 17: 70)

Ikhwah fillah, di muqaddimah jalasah ini tadi telah saya bacakan ayat yang sangat masyhur dan sering dinukil dari surat Al-Isra’. Dalam ayat ini terlihat betapa Allah SWT secara fitrah, kata orang Malaysia secara ‘semula jadi’, menciptakan manusia dalam kemuliaan : “وَلَقَدْ كَرَّمْنَا”. Akan tetapi kemuliaan ini adalah al-karamah bittakrim, kemuliaan karena dimuliakan dan bukannya al-karamah dzatiyah, kemuliaan an sich atau kemuliaan yang melekat dengan sendirinya.

Lagi

REALITA UMAT ISLAM HARI INI

4 Komentar

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Saat itu, tepat 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memandangi pasukan musuhnya yang berjumlah seribu orang dan pasukan yang dibawanya sejumlah 310 lebih sedikit. Hamba mulia ini memanjatkan doa yang begitu mengharu biru di tengah pasukannya yang amat sedikit dan apa adanya, melawan pasukan kafir Quraisy  yang tiga kali lipat menghadang di hadapan mereka di padang Badar. Dengan menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya, Beliau berdoa:

“Ya Allah! Penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah! Berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah!  Jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, … maka tidak ada lagi yang menyembahMu di muka bumi.”

Lagi