Bencana demi bencana datang silih berganti. Bertubi-tubi. Tsunami, letusan gunung berapi, wabah penyakit, kecelakaan-kecelakaan transportasi, longsor, banjir, gempa, dll.

Belum kering air mata kita karena suatu ujian dan cobaan, tiba-tiba ujian dan cobaan yang lain datang menghampiri.

Bagi seorang muslim kejadian demi kejadian ini hendaknya menjadi bahan muhasabah. Allah SWT berfirman:

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Hadid, 57: 22)

Dari ayat di atas kita memahami bahwa musibah adalah ketentuan Allah, yang pasti memiliki maksud. Karenanya manakala kita mengalami musibah dan cobaan, hal pertama yang harus dilakukan adalah segera mengingat Allah Sang Penentu segala sesuatu. Kita harus waspada, jangan-jangan bencana ini datang sebagai peringatan Allah SWT atas dosa-dosa yang kita kerjakan, sebagaimana difirmankan-Nya,

“Dan sesungguhnya kami timpakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As-Sajdah, 32: 21)

Ya, agar kita kembali ruju’ kepada Allah SWT dan mengingat kerusakan yang ditimbulkan oleh ulah tangan manusia, di darat maupun di lautan.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum, 30: 41).

Bencana adalah ujian, sekaligus teguran keras dari Allah agar kita tadharru, tunduk dengan kerendahan hati di hadapan Allah SWT. Namun sayang, banyak manusia tidak mampu memahaminya. Mungkin karena hati mereka demikian keras…

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan kami kepada mereka, bahkan hati mereka menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Al-An’am, 6: 42-43)

Akhirnya marilah kita renungkan firman Allah berikut ini,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang turun (kepada mereka), janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya yang telah diturunkan Al Kitab kepadanya, berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid, 57: 16)

Wallahu a’lam.