Oleh: M. Indra Kurniawan, S.Ag

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS. Al-Ahzab: 33).

Jika kita telusuri lembaran sirah Nabi Muhammad SAW, tentu kita akan temukan bahwa bentuk aktivitas dakwah yang beliau lakukan di sepanjang masa kenabiannya sangat bervariasi. Kita dapat mengetahui macam-macam tindakan, metode, dan strategi beliau yang dinamis dalam menyeru manusia ke jalan Allah. Hal ini perlu menjadi perhatian kita karena didalamnya banyak mengandung teladan dan inspirasi. Disamping itu ada satu isyarat penting yang perlu kita sadari dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tersebut, bahwa aktivitas dakwah Islamiyah hendaknya mampu bergerak terus menerus secara dinamis dan progresif.

Diantara contoh aktivitas, tindakan, metode, dan strategi dakwah yang beliau lakukan adalah sebagai berikut:

Dakwah fardhiyah

Dakwah dengan pendekatan pribadi ini dimulai dengan mengajak para anggota keluarga dan para sahabatnya yang terdekat. Beliau menyeru mereka kepada Islam, juga menyeru siapa pun yang dirasa memiliki kebaikan, yang sudah beliau kenal secara baik dan mereka pun mengenal beliau secara baik, yaitu mereka yang memang diketahui mencintai kebaikan dan kebenaran, dan mereka mengenal kejujuran dan kelurusan beliau.

Diantara para sahabat yang masuk Islam dengan pendekatan dakwah fardhiyah ini adalah istri beliau, Khadijah binti Khuwailid, pembantu beliau, Zaid bin Haritsah bin Syuhrahbil Al-Kalby, anak paman beliau, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat karib beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Abu Bakar sangat bersemangat dalam berdakwah kepada Islam. Ia melakukan dakwah fardhiyah sehingga beberapa orang berhasil ia rekrut masuk Islam, yaitu Utsman bin Affan Al-Umawy, Az-Zubair bin Al-Awwan Al-Asady, Abdurrahman bin Auf, Sa’id bin Abi Waqqash Az-Zuhriyah dan Thalhah bin Ubaidillah At-Taimy.

Masih banyak lagi as-sabiqunal awwalun (yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam) yang terekrut dengan pendekatan dakwah fardhiyah ini. Ibnu Hisyam menghitung jumlah mereka lebih dari 40 orang.

Ta’lim

As-sabiqunal awwalun masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah SAW menemui mereka dan mengajarkan agama di rumah Arqam bin Abil Arqam al-Makhzumi. Ta’lim yang beliau lakukan tidak lain merupakan upaya binaa-u syakhshiyah al-Islamiyah ad-da’iyah (pembentukan pribadi-pribadi da’i muslim) dan binaa-ul jama’ah (membentuk komunitas inti).

Moenawar Chalil dalam bukunya Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad berkomentar tentang aktivitas dakwah nabi SAW pada tahapan ini:

“Adapun tindakan dan siasat Nabi yang demikian itu sedapat mungkin dan bahkan seharusnya dibuat sebagai cermin dan dipergunakan sebagai contoh oleh siapa-siapa yang telah siap untuk menyiarkan agama Islam kepada orang lain, terutama sekali oleh para pemuka, pemimpin, alim ulama, dan mubaligh Islam. Karena jika tindakan dan siasat Nabi saw yang sepenting itu tidak ditiru, jangan harap seruan dan yang digerakkannya akan berhasil dan memperoleh buah yang memuaskan…”

Tabligh

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, (QS. Asy-Syu’ara’: 214)

Setelah turun ayat di atas, Rasulullah SAW segera mengundang Bani Hasyim. Mereka memenuhi undangan ini, yaitu beberapa orang dari Bani Al-Muthalib bin Abdi Manaf, yang jumlahnya 45 orang. Tabligh pertama Nabi ini tidak berjalan sesuai harapan, karena Abu Lahab segera angkat bicara merusak suasana dan tidak memberikan kesempatan kepada Nabi untuk berbicara. Meskipun begitu, tabligh ini membuahkan hasil yang patut disyukuri, yakni adanya deklarasi penjagaan dan perlindungan dari Abu Thalib.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury dalam bukunya Ar-Rahiqul Makhtum, mengatakan bahwa setelah Nabi SAW merasa yakin terhadap janji Abu Thalib untuk melindungi dalam menyampaikan wahyu dari Allah, maka suatu hari beliau berdiri di atas bukit Shafa, lalu berseru, “Wahai semua orang!”

Nabi SAW kemudian menyampaikan tentang kenabiannya dan mengingatkan kaumnya tentang akhirat. Beliau juga meminta dukungan dari mereka untuk mengemban amanah dakwah.

Aktivitas tabligh ini merupakan langkah awal dalam tahapan dakwah jahriyyah (terang-terangan) dalam rangka nasyul mabadi’ wa ta’alimil Islam (menyiarkan prinsip-prinsip ajaran Islam). Dengan aktivitas ini seruan Islam terus bergema di seantero Makkah. Bahkan ketika turun ayat,

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik (QS. Al-Hijr: 94), Rasulullah langsung bangkit menyerang berbagai khurafat dan kebohongan syirik, menyebutkan kedudukan berhala dan hakikatnya yang sama sekali tidak memiliki nilai.

Pawai dakwah

Variasi aktivitas dakwah lain yang dilakukan oleh Nabi adalah pawai dakwah. Tindakan ini                                          dilaksanakan atas usul Umar bin Khattab. Pada suatu pagi, Umar bin Khattab ra datang ke rumah Arqam, menanti kedatangan kaum muslimin, setelah mereka hadir di tempat itu dan berbaris, Umar meminta Nabi berjalan di muka barisan dan di belakang beliau berjalan Umar dan Hamzah. Kedua sahabat inilah yang mengepalai pawai kaum muslimin. Kedua sahabat itu berjalan dengan menyelempangkan panahnya sambil membawa pedang terhunus. Dalam pawai itu, keduanya membaca, “Laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullahu”.

Kaum muslimin dibelakangnya membaca pula bersama-sama. Umar berkata dengan suara keras, “Barangsiapa yang berani mengganggu salah seorang yang ada di belakangku, tentu pedangku itu akan memotong lehernya, setidak-tidaknya akan berkenalan dengannya.”

Rute pawai ini dimulai dari rumah Arqam, melewati rumah Umar, kemudian melewati rumah Nabi SAW dan terus berjalan mengelilingi kampung-kampung yang berdekatan dengan Masjidil Haram. Kemudian mereka masuk ke dalam masjid dan berthawaf mengelilingi Ka’bah dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara keras, diperdengarkan kepada kaum musyrikin. Sesudah shalat, akhirnya pawai itu dibubarkan dengan tidak ada gangguan dari kaum musyrikin Quraisy. Mereka hanya bisa tercengang melihat pawai itu.

Dialog

Hal lain yang dilakukan Nabi SAW dalam perjuangan dakwahnya adalah kegiatan dialog. Dalam sejarah dicatat bahwa beliau pernah berdialog dengan para tokoh Quraisy dan juga dengan kalangan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Salah satu contoh adalah dialog Nabi SAW dengan Utbah bin Rabiah yang diutus kaum Quraisy untuk membujuk Nabi. Dialog tersebut berakhir dengan kemenangan telak di pihak Nabi, karena Utbah takluk dan terpengaruh oleh Al-Qur’an surah Fushilat ayat 1 sampai 13 yang dibacakan kepadanya. Ia mendengar ultimatum yang menggoncangkan segenap perasaannya, yaitu:

Jika mereka berpaling Maka Katakanlah: “Aku Telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”. (QS. Fushilat: 13)

Ketika mendengar ayat tersebut Utbah menutup telinganya dengan kedua belah tangan seolah-olah hendak disambar petir. Setelah itu ia kembali ke tengah-tengah kaumnya dan mengusulkan supaya Muhammad SAW dibiarkan saja dan tak usah diganggu!

Metode dialog juga dilakukan Nabi ketika berada di Madinah, terutama dilakukan dengan kalangan Yahudi dan Nasrani. Diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansur yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ketika turun ayat 85 surat Ali Imran,“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”, berkatalah orang-orang Yahudi kepada Nabi Muhammad SAW, “Sebenarnya kami ini muslimin (orang-orang Islam)”. Mendengar ungkapan kaum Yahudi tersebut, Nabi Muhammad bersabda: “Allah telah mewajibkan kaum muslimin berhaji ke Baitullah”. Orang-orang Yahudi itu menyanggah: “Tidak diwajibkan (berhaji ke baitullah) kepada kami”.

Saat itu turunlah firman Allah SWT, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 96-97).

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab At-Thabaqat yang bersumber dari al-Azraq bin Qais, bahwa ketika Uskup Najran dan wakilnya menemui Nabi Muhammad SAW dan mendengar penjelasan beliau tentang agama Islam, mereka berkata: “Kami telah lebih dahulu masuk Islam sebelum Anda”.

Nabi SAW bersabda: “Kalian telah berdusta, karena ada tiga hal yang menghalangi kalian masuk Islam, yaitu: Kalian mengatakan bahwa Tuhan mempunyai anak; Kalian makan daging babi; dan kalian bersujud kepada patung”.

Kedua orang Nasrani itu bertanya: “Kalau begitu siapakah bapaknya Isa?”. Pada saat itu Rasulullah SAW tidak mengetahui bagaimana harus menjawabnya. Maka turunlah firman Allah SWT sebagai tuntunan kepada Rasulullah untuk menjawabnya:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), Maka jadilah dia. (apa yang telah kami ceritakan itu), Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, Karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (QS. Ali Imran: 59-60).

Setelah mendengar firman Allah SWT ini, Uskup Najran dan wakilnya ini tetap merasa ragu dan membantahnya. Maka turunlah firman Allah SWT selanjutnya,“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan Sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 61-62).

Muhammad SAW mengajak utusan Nasrani Najran itu melakukan mubahalah, yakni masing-masing pihak diantara orang-orang yang berbeda pendapat berdo’a kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta, tetapi mereka tidak berani dan memilih membayar jizyah (sejenis pajak untuk jaminan perlindungan) sebagai tanda tunduk kepada pemerintahan Madinah. Ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW.

Kunjungan Dakwah

Dalam sirah dicatat, setelah Abu Thalib dan Khadijah wafat, kota Makkah semakin tidak kondusif bagi aktivitas dakwah. Rasulullah SAW kemudian berupaya mencari lahan baru untuk dijadikan basis dan pusat penyiaran Islam dengan melakukan kunjungan dakwah ke Thaif. Beliau berharap dapat memperoleh dukungan dari penduduknya. Terlebih lagi di Thaif ada Bani Tsaqif yang merupakan kerabat ibunda Nabi.

Selain itu Thaif juga merupakan daerah ekonomi yang potensial, mengingat ia adalah daerah pertanian dan banyak menyimpan sumber daya alam. Sehingga jika Thaif menjadi pusat dakwah, Rasulullah dan sahabatnya pasti mendapat kemudahan hidup yang sangat membantu mereka dalam menyebarkan dakwah yang tentu memerlukan banyak biaya. Thaif juga merupakan daerah yang strategis, berada di puncak gunung. Kondisi ini dapat melindungi siapa saja yang tinggal disana.

Namun sayang, penduduk Thaif menolak mentah-mentah dakwah Nabi. bahkan mereka menyakiti dan menghinakan beliau. Akhirnya Nabi kembali lagi ke Makkah, dan dapat memasukinya setelah mendapat jiwar (suaka) dari salah seorang tokoh musyrikin Quraisy bernama Muth’im bin Adiy.

Dakwah dalam perayaan dan hari besar

Menurut riwayat Ibnu Ishaq, Nabi saw pergi ke tempat-tempat musim berkumpul orang-orang Arab, yaitu pasar yang diadakan beberapa kali pada setiap tahun, misalnya Pasar Ukaz yang diadakan selama bulan Syawal, Pasar Majannah yang berlangsung sesudah bulan Syawal selama 20 hari. Selain itu selama musim haji diadakan perayaan di Pasar Zil Majaz. Selain mendatangi pasar-pasar, Nabi saw juga mendatangi tempat-tempat suku Kindah, suku Bani Kalb, suku Bani Amir bin Sha’sha’ah, Muharib bin Khashafah, Fazarah, Ghassan, Murrah, Hanifah, Sulaim, Bani Nashr, Bani Al-Bakka, Al-Harits bin Ka’b, Udzrah dan Hadramy. Namun tak seorang pun di antara mereka yang memenuhi seruan beliau.

Namun padamusim haji tahun ke 11 dari nubuwah, tepatnya pada bulan Juli 620 M, dakwah Islam memperoleh benih-benih yang baik. Suatu malam dengan ditemani Abu Bakar dan Ali, beliau menemui 6 orang pemuda Yatsrib (Madinah) dari suku Khazraj: As’ad bin Zurarah dan Auf bin Harits bin Rifa’ah bin Afra’ dari bani Najjar, Rafi’ bin Malik bin Al-Ajlan dari Bani Zuraiq, Quthbah bin Amir bin Hadidah dari Bani Salamah, Uqbah bin Amir bin Naby dari Bani Ubaid bin Ka’b, Jabir bin Abdullah bin Ri’ab dari Bani Ubaid bin Ghanm. Kepada mereka Rasulullah SAW menjelaskan hakikat Islam dan dakwahnya, mengajak mereka kepada Allah dan membacakan Al-Qur’an. Mereka kemudian saling berkata, “Demi Allah, kalian tahu sendiri, memang dia benar-benar seorang nabi seperti yang dikatakan orang-orang Yahudi. Janganlah mereka mendahului kalian. Segeralah memenuhi seruannya dan masuklah Islam!”

Mereka pun berharap dakwah beliau ini bisa menjadi sebab untuk meredakan konflik yang kerap terjadi di Madinah antar suku Aus dan Khazraj. Sekembalinya ke Madinah, mereka membawa risalah Islam dan menyebarkannya di sana. Sehingga tidak ada satu rumah pun di Madinah melainkan sudah menyebut nama Muhammad Rasulullah.

Mengirim Mubaligh

Salah satu bentuk dakwah Nabi saw adalah bi’tsatu du’at (pengiriman da’i). Beliau mengutus Mush’ab bin Umair dan Abdullah bin Ummi maktum ke Madinah untuk mengajarkan Islam. Maka, penyiaran agama Islam di Madinah makin hari makin bertambah pesat kemajuannya.

Pengokohan dan pembentukan struktur penyiapan basis massa pendukung

Pada tahun ke 13 dari nubuwah, tepatnya pada bulan Juni 622 M, lebih dari 70 muslimin penduduk Yatsrib dating ke Makkah untuk melaksanakan haji. Mereka datang bersama rombongan haji dari kaumnya yang masih musyrik. Selama di perjalanan mereka saling bertanya-tanya, “Sampai kapan kita membiarkan Rasulullah berkeliling, diusir dan dilanda ketakutan di gunung-gunung Makkah?”

Setibanya di Makkah mereka diam-diam menjalin komunikasi dengan Rasulullah dan bersepakat untuk bertemu di bukit Aqabah pada malam hari. Rasulullah SAW telah melihat dari mereka semangat, hasrat yang menggelora, keberanian, iman dan ketulusan dalam mengemban tanggung jawab. Karenanya beliau meminta mereka untuk berbai’at dalam rangka pengokohan dukungan kepada dakwah. Klausal baiat yang disampaikan Rasulullah adalah:

  1. Untuk mendengar dan taat tatkala bersemangat maupun malas
  2. Untuk menafkahkan harta (di jalan Allah) tatkala sulit maupun mudah
  3. Untuk menyuruh mereka beramar ma’ruf nahi munkar
  4. Untuk tegak berdiri karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela
  5. Hendaklah kalian menolongku jika aku dating kepada kalian, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri dan anak-anak kalian, dan bagi kalian adalah surga.

Setelah itu Rasulullah SAW menetapkan dari mereka 12 orang naqib (ketua/pemuka) yang bertanggung jawab mengawasi pelaksanaan kalausal-klausal baiat itu pada kaumnya masing-masing. Mereka adalah As’ad bin Zurarah bin Ads, Sa’d bin Rabi bin Amr, Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah, Rafi’ bin Malik bin Al-Ajlan, Al-Barra’ bin Ma’rur bin Shahr, Abdullah bin Amr bin Haram, Ubadah bin Ash-Shamit bin Qais, Sa’d bin Ubadah bin Dulaim, Al-Mundzir bin Amr bin Khunais, Usaid bin Hudhair bin Sammak, Sa’d bin Khaitsamah bin Al-Harits, Rifa’ah bin Abdul Mundzir bin Subair.

Membangun daulah Islamiyah

Muhammad Al-Ghazaly dalam fiqhus sirah menyebutkan bahwa sejak Rasulullah tinggal menetap di Madinah, beliau sibuk mencurahkan perhatian untuk meletakkan dasar-dasar yang sangat diperlukan guna menegakkan tugas risalahnya, yaitu:

  1. Memperkokoh hubungan umat Islam dengan Tuhan-nya.
  2. Memperkokoh hubungan intern umat Islam, yaitu antara sesama kaum muslimin.
  3. Mengatur hubungan antara umat Islam dengan kalangan non muslim.

Ketiga hal itu diwujudkan Rasulullah SAW dengan:

  1. Pembangunan masjid sebagai pusat dakwah dan ibadah.
  2. Mempersaudarakan antara kaum anshor (muslimin Yatsrib) dan muhajirin (muslimin Makkah).
  3. Penandatanganan Piagam Madinah

Jihad fi sabilillah

Bentuk aktivitas dakwah Rasulullah yang lain adalah jihad fi sabilillah. Awalnya Rasulullah mengirim beberapa ekspedisi kecil yang bertugas melakukan patroli di sekitar daerah gurun sahara yang berdekatan, sekaligus melakukan pengawasan terhadap lalu lintas kafilah yang bergerak dari Makkah ke Syam dan sebaliknya. Mereka  mengamati keadaan berbagai kabilah yang tempat pemukimannya terpencar di sana-sini.

Bentrokan pertama antara muslimin dengan musyrikin terjadi di Nikhlah, yaitu antara kelompok ekspedisi Abdullah bin Jahsy dengan sebuah kafilah Quraisy. Mulai saat itu Quraisy mulai sadar ancaman kaum muslimin terhadap kehidupan perekonomian mereka, karena hubungan dagang dengan Syam harus melalui daerah Madinah. Maka terjadilah peperangan demi peperangan: Badr, Uhud, Ahzab, dll.

Perjanjian Politik

Sebuah perjanjian politik yang dilakukan Nabi SAW dalam perjuangan dakwahnya adalah perjanjian Hudaibiyah. Berkenaan dengan momentum fenomenal ini turunlah firman Allah SWT:

Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata (QS. Al-Fath: 1).

Perjanjian ini disebut sebagai ‘kemenangan yang nyata’ karena membawa keuntungan yang besar pada dakwah Islamiyah. Meskipun pada awalnya sebagian besar sahabat—diantaranya Umar dan Ali—merasa kecewa dengan isi perjajian itu karena dianggap merugikan ummat Islam, padahal dalam memutuskan isi perjanjian ini Rasulullah tidak mengajak berunding para sahabatnya dan sempat menimbulkan kegaduhan di antara sahabat Nabi sendiri, kecuali Abu Bakar Ash-Shididdiq yang tetap mantap dengan segala isi perjanjian ini. Klausal perjanjian yang ditandatangani di tengah perjalan umroh ini diantaranya mengandung kesepakatan gencatan senjata selama 10 tahun dan kesepakatan kebebasan untuk melakukan koalisi dengan kabilah manapun.

Menyebar Surat-surat Dakwah

Perjanjian Hudaibiyah menjadi awal babak baru dakwah Islamiyah. Dikukuhkannya gencatan senjata memberikan kesempatan yang amat luas bagi kaum muslimin untuk menyebarluaskan Islam. Semangat mereka bertambah sekian kali lipat dalam aktivitas ini. Rasulullah SAW sendiri mulai melakukan korespondensi dengan beberapa raja dan amir, diantaranya adalah surat kepada Najasyi raja Habasyah, Muqauqis raja Mesir, Kisra raja Persia, Kaisar Romawi, Al-Mundzir bin Sawa pemimpin Bahrain, Haudzah bin Ali Al-Hanafy pemimpin Yamamah, Al-Harits bin Abu Syamr Al-Ghassany pemimpin Damaskus, Jaifar dan Abd bin Al-Julunda pemimpin Uman.

Dengan surat-surat itu Nabi SAW telah menyampaikan dakwah kepada sekian banyak raja di muka bumi. Di antara mereka ada yang beriman dan sebagian lain ada yang ingkar. Tapi setidaknya surat-surat tersebut telah berhasil memasygulkan pikiran orang-orang kafir dan membuat mereka mengenal nama beliau dan Islam.

Demikianlah aktivitas, tindakan, metode, dan strategi dakwah Rasulullah SAW. Semoga menjadi inspirasi bagi kebangkitan dakwah di masa kini. Dakwah Tiada Henti!

Maraji:

Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury

Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, Moenawar Chalil

Sirah Nabawiyah, Prof. DR. Rawwas Qal’ahji

Fiqhus Sirah, Muhammad Al-Ghazaly