Thaha Husain menulis buku berjudul Mustaqbalu ats-Tsaqafah Fi Misr yang menimbulkan kehebohan di Mesir. Sebagian orang memuji dan sebagian lain mencacinya.

Hasan Al-Banna—Mursyid Amm Al-Ikhwan Al-Muslimun—diundang untuk memberikan tanggapan terhadap buku tersebut. Lima hari sebelum acara, Al-Banna mulai membaca buku yang akan dibedah tersebut di kereta setiap pulang pergi ke sekolah.

Pada hari yang telah ditentukan, ia berangkat menuju kantor Syubbanul Muslimin. Ternyata kantor telah dipenuhi para ahli ilmu, sastrawan, dan tokoh pendidikan.

Hasan Al-Banna kemudian naik mimbar dan mengawali pemaparannya dengan memuji Allah SWT dan membaca shalawat untuk Rasulullah SAW. Setelah itu beliau mmengkritik buku dengan ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam buku itu sendiri.

Al-Banna mengungkap beberapa alinea buku dan menunjukkan nomor halamannya. Sementara para hadirin terkagum pada kuatnya hapalan dan kecerdasannya.

Pada acara penutupan, Sekretaris Jenderal Syubbanul Muslimin memberi kabar kepada Hasan Al-Banna, bahwa Thaha Husain ikut menghadiri pertemuan di tempat tersembunyi.

Pada hari berikutnya, Thaha Husain meminta bertemu Hasan Al-Banna dan ia menyanggupi. Maka terjadilah perbincangan yang membuat Thaha Husain terkagum pada Hasan Al-Banna. Setelah itu Thaha Husain berkata, “Andai lawan-lawanku seperti Hasan, tentu aku menjabat tangan mereka sejak hari pertama. Wahai Ustadz Hasan, saya mendengar kritikanmu dan terkagum padamu. Kritikan seperti ini tidak dimiliki orang lain selain engkau.”

******

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari penggalan kisah perjalanan dakwah Hasan Al-Banna di atas?

Kisah di atas paling tidak mengandung hikmah sebagai berikut:

1. Perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan yang akan selalu terjadi sepanjang zaman ilaa yaumil qiyaamah. Rasa-rasanya tidak pernah dan tak akan pernah terjadi manusia di muka bumi ini sepakat dalam seluruh urusannya.

2. Langkah pertama terbaik manakala terjadi perbedaan pendapat adalah membuka dialog yang sehat dan sopan, dengan didasari niat mencari pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran.

3. Tokoh dan pemimpin umat hendaknya mampu memberikan teladan kepada umat untuk bersikap dewasa dalam menghadapi perbedaan. Mereka yang berbeda pendapat seharusnya berupaya saling memahami sudut pandang dan landasan berfikirnya masing-masing, dengan begitu diharapkan substansi permasalahan dapat diketahui dengan jelas. Dengan kata lain pihak pro dan kontra hendaknya berupaya saling mengenal dan memahami argumentasi masing-masing. Bukankah seringkali terjadi kekacauan dan keributan serta debat kusir yang berkepanjangan tanpa konklusi, disebabkan masing-masing pihak belum memahami dan atau tidak berusaha memahami argumentasi ‘lawan’?

4. Tokoh dan pemimpin umat hendaknya selalu memelihara dan meningkatkan integritas dan kapabilitas dirinya.

5. Perbedaan pendapat ‘sekeras’ apa pun sebaiknya tidak membuat seseorang kehilangan akal sehat dan kedewasaannya. Dialog jangan sampai dianggap sebagai ajang pamer otot-otot intelektual yang hasil akhirnya adalah menang atau kalah.

6. Pihak-pihak yang berbeda pendapat harus jujur kepada kebenaran, seraya menghormati kepada ‘lawan’ yang berbeda pendapat dengannya. Mereka adalah tawanan kebenaran, dimanapun kebenaran berada maka ia tunduk kepadanya.

Wallahu a’lam bishawab…