Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Di bulan yang mulia ini, sudah selayaknya bagi orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah tabaroka wa ta’ala berupaya memperbaharui hubungannya dengan Al-Qur’an. Mereka hendaknya merenungkan kembali kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikannya pada Al-Qur’an demi meraih keridhoan Allah tabaroka wa ta’ala.

Kewajiban kita terhadap Al-Qur’an paling tidak ada empat:

Pertama, hendaknya kita meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali petunjuk Al-Qur’an. Kita harus menjadikannya sumber hukum agama yang senantiasa dikaji dan digali, serta dijadikan rujukan.

Kita telah mengetahui Rasulullah saw tatkala membenarkan Muadz bin Jabal saat bertanya kepadanya, “Dengan apa Anda menghukum?” Ia menjawab, “Dengan Kitabullah”. Begitupun Umar bin Khattab melarang banyak sahabat untuk berbicara kepada orang yang baru masuk Islam dengan hadits-hadits dan berbagai kejadian yang ada sebelum dipahamkan dahulu dengan Kitabullah terutama tentang hukum halal dan haram. Para tokoh tabi’in dan pengikut tabi’in, misalnya Sa’id bin Musayyib, tidak memberi izin kepada orang untuk menghimpun fatwa-fatwanya dikarenakan khawatir orang akan berpaling dari Kitabullah kepada kata-katanya. Bahkan ia pernah merobek-robek lembaran kertas dari orang yang mencatat fatwa-fatwanya sembari berkata, “Engkau mengambil kata-kataku sementara meninggalkan Kitabullah. Engkau pergi lalu berkata, ‘Kata Sa’id, kata Sa’id?’ Berpegang teguhlah kepada Kitab Allah kemudian Sunnah Rasul-Nya.”

Kedua, kita wajib menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat karib, kawan bicara dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui tanpa menjalin hubungan dengan Al-Qur’an. Demikianlah salafu shalih mencontohkannya pada kita. Mereka demikian mercurahkan waktunya untuk Al-Qur’an sampai Rasulullah saw turun tangan untuk melarang mereka berlebih-lebihan di dalamnya, seperti termuat dalam hadits dimana Nabi menyuruh Abdullah bin Amru bin ‘Ash untuk mengkhatamkan Al-Qur’an cukup sekali dalam sebulan, sekali dalam 20 hari, atau sekali dalam seminggu, tidak boleh kurang dari seminggu, “Karena sesungguhnya istrimu mempunyai hak yang harus kau tunaikan, tamumu mempunyai hak yang harus kau tunaikan, dan jasadmu mempunyai hak yang harus kau tunaikan…” (HR. Bukhari Muslim)

Utsman bin Affan melakukan sunnah Nabi ini dengan bersungguh-sungguh, ia membuka malam Jum’at dengan membaca Al-Baqarah sampai Al-Maidah; malam Sabtu surat Al-An’am sampai surat Hud; malam Ahad surat Yusuf sampai Maryam; malam Senin surat Thaha sampai Al-Qashash; malam Selasa surat Al-Ankabut sampai Shad; dan malam Kamis mengkhatamkannya.

Rasulullah saw bersabda tentang orang yang gemar membaca Al-Qur’an secara rutin,

“Diantara hamba-hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah Al-Hallul Murtahil (orang yang singgah dan pergi).” Para sahabat bertanya, “Siapakah Al-Hallul Murtahil itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an lalu memulainya lagi dan orang yang memulai membaca Al-Qur’an kemudian mengkhatamkannya. Demikianlah, ia terus berada dalam keadaan singgah dan pergi bersama kitab Allah tabaroka wa ta’ala”

Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.”

Yang perlu kita renungkan adalah tidak sedikit diantara kita saat ini yang tidak memperhatikan sunnah Nabi saw ini, sebagian pelaku ibadah mengganti sunnah ini dengan cara membuat bacaan sendiri yang ditetapkan para mursyidnya, semisal amalan wirid, hizib, dan salawat. Dengan begitu secara tidak sadar mereka meninggalkan Kitabullah. Tentu saja ini bukan berarti haram membaca wirid, do’a-do’a dan hizib yang benar dan syar’i. Tapi disini perlu ditegaskan bahwa Kitabullah lebih utama.

Ketiga, kita wajib memperhatikan adab-adab terhadap Al-Qur’an, baik dalam membaca maupun mendengarnya. Kita hendaknya berusaha merenungkan dan meresapi isinya. Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini turun dengan kesedihan, maka jika kamu membacanya, hendaklah kamu menangis. Jika kamu tidak menangis, maka buatlah seolah-olah dirimu menangis.”

Perhatikanlah bagaimana Umar bin Khattab pernah tersungkur pingsan ketika mendengar bacaan surat At-Thur, sampai beliau harus digendong oleh seorang sahabat yang bernama Aslam dan dibawa ke rumahnya. Beliau sakit selama tiga puluh hari.

Seharusnya kondisi orang-orang beriman ketika membaca Al-Qur’an adalah sebagaimana yang difirmankan-Nya,

“Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun.” (QS. Az-Zumar: 23)

Keempat, setelah kita beriman bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya penyelamat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya.

Di dalam Al-Qur’an terdapat hukum-hukum individu dan hukum-hukum kemasyarakatan. Hukum-hukum yang berkaitan dengan kehidupan individual misalnya shalat, zakat, puasa, haji, taubat, serta akhlak, yang meliputi kejujuran, menepati janji, kesaksian dan amanat. Sedangkan yang berkaitan dengan kemasyarakatan contohnya: menegakkan hudud, jihad, dan masalah-masalah yang merupakan tugas negara dalam Islam. Negara wajib melaksanakannya. Jika negara tdak melaksanakannya, ia bertanggung jawab di hadapan Allah tabaroka wa ta’ala.

Itulah diantara kewajiban kita terhadap Al-Qur’an yang harus kita tunaikan. Semoga Allah tabaroka wa ta’ala membimbing kita semua. Amin…