Misi Gerakan Islam

Misi gerakan Islam adalah membangun kehidupan berdasarkan disain Allah SWT. Ia berputar sepanjang zaman mengajak manusia menerapkan syariat dalam kehidupan sebagai individu, masyarakat, dan warga negara. Ia terus melaju mengemban misi membimbing umat manusia seluruhnya menuju sistem Islam beserta ajaran-ajarannya.

Dalam persfektif seperti ini, sejatinya dakwah merupakan wadzifah hadhariyah: tugas peradaban. Oleh karena itu, sejak awal para pengemban dakwah harus menyadari panjangnya jalan yang harus ditempuh dan banyaknya tenaga yang harus dikerahkan. Mereka bahkan harus siap mengorbankan jiwa, harta dan segala yang dimilikinya berupa waktu, tenaga, kesehatan, ilmu dan lain-lainnya semata-mata untuk mencari keridhaan Allah.

Tahapan dan Urutan Amal

Untuk merealisasikan tujuan yang mulia itu, sebuah gerakan dakwah harus melakukan tahapan-tahapan amal, karena salah satu karakter dakwah adalah at-tadaruj fi al-khutuwat (bertahap dalam langkah). Tahapan-tahapan amal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Tahapan seruan (di’ayah), pengenalan (ta’rif) dan sosialisasi fikrah (nasyr al-fikrah) kepada masyarakat.
  2. Tahapan pembinaan (takwin) dan seleksi pendukung (takhyir al-anshar), penyiapan pasukan/kader  (I’dad al-junud) dan mobilisasi barisan (ta’biah ash-shufuf) dari kalangan mad’u.
  3. Tahapan aplikasi (tanfidz), kerja (amal), dan produksi (intaj).

Sedangkan maratibul amal (urutan amal)-nya adalah:

  1. Perbaikan individu (ishlah al-fard)
  2. Perbaikan rumah tangga (ishlahul al-bait)
  3. Perbaikan masyarakat (ishlah al-mujtama’)
  4. Pembebasan negeri (tahrir al-wathan)
  5. Perbaikan pemerintahan (ishlah al-hukumah)
  6. Penyiapan tegaknya khilafah (bina al-khilafah)
  7. Pemanduan dunia (ustadziah al-alam)

Tiga tingkatan pertama merupakan kewajiban individu-individu muslim secara umum, juga menjadi kewajiban gerakan dakwah. Sedangkan empat tingkatan yang akhir merupakan tugas yang harus diemban gerakan dakwah sebagai sebuah tandzim dakwah yang aktif.

Implementasi

Implementasi tahapan dan urutan amal dakwah tersebut dapat diwujudkan dalam tahapan kerja berikut:

Mihwar Tanzhimi

Gerakan dakwah perlu membangun dirinya menjadi sebuah organisasi yang kuat dan solid sebagai kekuatan utama yang mengoperasikan dakwah. Organisasi ini harus diisi oleh orang-orang yang kuat dan tangguh dalam seluruh aspek kepribadian. Untuk itu diperlukan proses pembinaan dan kaderisasi yang sistematis, integral, dan waktu yang relatif panjang. Mereka yang dipilih untuk dikader dan dibina haruslah orang-orang yang terbaik yang ada di masyarakat.

Mihwar Sya’bi

Selanjutnya gerakan dakwah harus berupaya membangun basis sosial yang luas dan merata sebagai kekuatan pendukung dakwah. Menciptakan struktur budaya dan adab-adab sosial yang islami, dominasi figur dan tokoh Islam dalam masyarakat serta sebaran kultural yang luas dimana Islam menjadi faktor pembentuk opini publik dan – untuk sebagiannya – tersimbolkan dalam tampilan-tampilan budaya, seperti pakaian, produk kesenian, etika sosial, istilah-istilah umum dalam pergaulan dan seterusnya.

Untuk itu sebagai langkah awal gerakan dakwah harus bekerja keras membina  komitmen dan kekuatan aqidah pada sebagian besar kalangan kaum muslimin. Yaitu komitmen aqidah yang menandai kesiapan ideologi masyarakat Muslim untuk hidup dengan sistem Islam pada seluruh tatanan kehidupannya. Serta kekuatan aqidah untuk menampilkannya dalam kehidupan di lingkungan secara mempesona.

Selain itu pada tahapan ini idealnya gerakan dakwah mampu mewujudkan supremasi pemikiran Islam di tengah masyarakat sehingga muncul kepercayaan umum bahwa secara konseptual Islamlah yang paling siap menyelamatkan bangsa dan negara. Dengan begitu Islam menjadi arah yang membentuk arus pemikiran nasional.

Mihwar Muassasi

Gerakan dakwah harus membangun berbagai institusi untuk mewadahi pekerjaan-pekerjaan dakwah di seluruh sektor kehidupan dan di seluruh segmen masyarakat. Wilayah pekerjaan dakwah pada mihwar ini sangat luas dan rumit, karenanya dibutuhkan pengelompokan pekerjaan (ada institusi sosial, ekonomi, politik, dlsb.). Pada tahapan ini dilakukan pula upaya mengisi institusi-institusi (masyarakat / pemerintahan) yang sudah ada. Dengan begitu terbentuklah jaringan kader dakwah di seluruh institusi strategis. Ini merupakan pranata yang dibutuhkan untuk menata kehidupan bernegara yang Islami.

Mihwar Daulah

Dakwah harus sampai pada tingkat institusi negara. Dengan institusi ini gerakan dakwah dapat merealisasikan secara legal dan kuat seluruh kehendak Allah SWT atas kehidupan masyarakat.

Negara adalah sarana, bukan tujuan. “Kebenaran harus punya negara karena kebatilan pun punya negara”, demikian kata Ibnu Qoyyim.

Diantara hasil kerja dakwah pada tahapan ini adalah melahirkan SDM yang memiliki keterampilan akademis yang handal untuk dapat mentransformasikan (legal drafting) ajaran-ajaran Islam kedalam format konstitusi, undang-undang dan derivasi hukum lainnya. Serta memasukkan sekelompok tenaga leadership di tingkat negara, yang visioner dan memiliki kemampuan teknis untuk mengelola negara. Merekalah yang menentukan – di tingkat aplikasi – seperti apa wajah Islam dalam kenyataan, dan karenanya menentukan berhasil tidaknya proyek Islamisasi— membangun kehidupan berdasarkan disain Allah SWT.

Pada mihwar ini gerakan dakwah wajib berkontribusi aktif mewujudkan kemandirian material yang memungkinkan bangsa kita tetap survive begitu kita menghadapi isolasi atau embargo. Mengapa demikian? Karena sejarah mengajarkan, tidak pernah ada sebuah negara yang menyatakan Islam sebagai ideologinya, melainkan ia pasti memasuki hari-hari panjang yang penuh keringat, air mata dan darah.

Sejak Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pindah ke Madinah, beliau harus menghadapi 68 kali pertempuran dan memimpin 28 peperangan diantaranya. Di zaman kita, setidaknya kita belajar dari Iran (1979) dan Sudan (1987). Begitu kedua Negara itu menyatakan diri sebagai Negara Islam, dunia segera bertindak; embargo. Atau yang actual, kita dapat belajar dari dari pemerintahan Hamas di Gaza Palestina (2007).

Sejarah itu mengajarkan kepada kita, bahwa ada risiko yang harus ditanggung begitu sebuah negara menyatakan Islam sebagai jati dirinya.

Oleh karena itu apabila siklus perekonomian tetap dapat berjalan di dalam negeri, maka itu sudah merupakan tanda kesiapan untuk lebih independen.

Gerakan dakwah pada mihwar daulah ini pun wajib mendukung peningkatan kapasitas pertahanan yang tangguh, sebab tantangan eksternal yang mungkin kita hadapi tidak terbatas pada gangguan ekonomi, tapi juga gangguan pertahanan.

Selain itu gerakan dakwah pun harus mampu membangun  koneksi internasional yang akan memungkinkan negeri tetap eksis dalam percaturan internasional, atau tetap memiliki akses keluar begitu menghadapi embargo atau invasi.

Manakala tahapan kerja dan syarat-syarat kesiapan islamisasi itu sudah terpenuhi secara paripurna, pada saat itulah gerakan dakwah dapat menggalang  tuntutan politik yang ditandai dengan adanya partai-partai politik—bersama public—yang secara resmi meminta penerapan syariat Islam di tingkat konstitusi.

Tahapan kerja dan pemenuhan syarat-syarat kesiapan islamisasi ini idealnya dapat berjalan secara berurutan. Namun kenyataannya lebih memungkinkan berjalan secara pararel. Wallahu a’lam…

Sampai disini kerja dakwah belum selesai…

Dalam persfektif dakwah sebagai sebuah proyek peradaban, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan oleh gerakan dakwah adalah upaya konsolidasi dengan bangsa-bangsa muslim lain, menyangkut masalah politik, ekonomi, sosial, pertahanan keamanan, dan peradaban Islam secara umum.

Setelah itu berupaya membentuk persekutuan dan koalisi di antara mereka untuk mendirikan lembaga-lembaga keumatan dan mengadakan muktamar antar negara. Berikutnya berupaya membentuk persekutuan bangsa-bangsa muslim.

Jika hal itu bisa diwujudkan dengan sempurna, akan dihasilkan sebuah kesepakatan untuk mengangkat pemimpin yang satu sebagai symbol persatuan umat Islam sedunia.

Dakwah Syamilah

Sampai disini gerakan dakwah dapat berbicara kepada dunia seperti yang pernah Rasulullah SAW katakan pada Heraclius, “Masuklah ke dalam Islam supaya kamu selamat!”

Atau mengatakan kepada mereka seperti yang pernah diucapkan Nabi Sulaiman kepada Ratu Balqis, “Ini (surat) datang dari Sulaiman, dan sesungguhnya (ia datang) dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (An-Naml: 30).

Namun untuk sampai disini…jalan masih panjang. La haula wa laa quwwata illa billah…

Maraji’:

Dari Gerakan ke Negara, H.M. Anis Matta, Lc.

Menikmati Demokrasi, H.M. Anis Matta, Lc.

Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna