Ustadz Hasan Al-Banna menghadiri muktamar di Manzilah Daqliyah. Setelah muktamar selesai dan waktu tidur tiba, beliau yang ditemani Ustadz Umar Tilmisani menuju kamar tidur yang memiliki dua kamar tidur. Keduanya merebahkan diri di tempat tidur masing-masing.

Setelah beberapa saat, Ustadz Hasan Al-Banna berkata, “Apakah engkau tidur, wahai Umar?”

Ust. Umar Tilmisani menjawab, “Belum.”

Beberapa saat kemudian, pertanyaan itu terulang lagi dan jawaban sama pun terulang.

Ust. Umar Tilmisani berkata dalam hati, “Apabila beliau bertanya lagi, maka tidak akan saya jawab.”

Ustadz Hasan Al-Banna menyangka Umar telah tidur. Maka beliau keluar dari kamar dengan mengendap-ngendap sambil menenteng sandalnya. Beliau menuju kamar mandi untuk memperbarui wudhu. Setelah itu menuju ke ujung ruangan, kemudian menggelar sajadah, lalu melaksanakan shalat tahajud.

******

Sepenggal berita yang disampaikan Ustadz Umar Tilmisani di atas mengandung teladan yang berharga bagi kita. Inilah Hasan Al-Banna, profil Da’i yang menjadikan Muhammad SAW sebagai contoh teladan dalam gerak langkah hidupnya.

Mewakafkan waktu untuk perjuangan Islam

Dari penggalan berita di atas diungkapkan bahwa Ustadz Hasan Al-Banna menghadiri muktamar di Manzilah Daqliyah. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa beliau adalah orang yang tidak pernah berhenti bergerak memperjuangkan Islam. Beliau curahkan waktu, tenaga dan pikiran untuk kepentingan dakwah.

Spirit semacam inilah yang juga harus kita miliki. Sehingga ungkapan: “Dakwah tiada henti” tidak hanya jadi jargon dan kata-kata mentereng tapi kosong dalam implementasi.

Taqorub ila-Llah

Dari penggalan berita diatas, kita pun dapat mengetahui bahwa taqorub ila-Llah telah menjadi karakter dan kebiasaan Ustadz Hasan Al-Banna. Kepenatan aktivitas tidak menjadikan beliau merasa berhak untuk terburu-buru beristirahat. Secara tersirat kita dapat menarik kesimpulan tentang betapa kerinduannya  berkhalwat dengan Rabbnya.

Begitulah seharusnya seorang Da’i, taqorub ila-Llah menjadi karakter dan kebiasaannya. Qiyamulail menjadi kerinduannya yang tak pernah ditinggalkan kapan, dimana, dan apapun kondisinya selama mampu menjalankannya. Terlebih lagi para pejuang dakwah yang amat butuh dukungan dan pertolongan Allah SWT.

Keikhlasan beribadah dan syafaqah

Pelajaran lain yang dapat kita ambil, disini Ustadz Hasan Al-Banna tanpa rekayasa telah menunjukkan keikhlasannya dalam beribadah—wallahu a’lam. Beliau berusaha agar ibadah yang dilakukannya tidak diketahui orang. Selain itu peristiwa ‘tahajud’ ini menunjukan sikap syafaqahnya / kelemahlembutannya. Beliau tidak mau mengganggu Ustadz Umar Tilmisani dan membiarkannya beristirahat, karena mengetahui kepenatannya beraktivitas.

Keikhlasan beribadah memang akan menyegarkan jiwa, sedangkan ibadah yang dibarengi riya akan menyempitkan dada. Dan syafaqah (kelemahlembutan) menunjukkan jiwa penyayang dan sifat sabar.

Ustadz Hasan Al-Banna telah mengajarkan nilai-nilai mulia ini dengan amalnya. Bukan hanya bicara. Mudah-mudahan kita dapat memetik pelajaran dari hamba yang berteladankan Muhammad Rasulullah ini.