Hasan Al-Banna seringkali dituduh sebagai ‘biang’ gerakan Islam garis keras yang tidak sungkan melakukan aksi-aksi terror untuk mencapai tujuannya. Kenyataannya tuduhan ini jauh panggang dari api. Jika kita menyelami perjalanan hidup Al-Banna secara utuh dengan hati yang dingin tanpa prasangka, pasti akan kita temukan dia tidaklah seperti yang dituduhkan banyak orang. Apalagi dianggap sebagai ‘biang’ teroris.

Paling tidak ini tergambar dari potongan peristiwa dalam hidupnya saat Pemerintahan Mesir di bawah pimpinan An-Nuqrasyi mengeluarkan keputusan pembubaran jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dipimpin Al-Banna, sejak tanggal 8 Desember 1948. Saat itu terjadi ujian, cobaan, penculikan dan penyiksaan kepada anggota Ikhwan.

Sebagian pemuda Ikhwan datang menemui Hasan Al-Banna untuk meminta izin melakukan perlawanan terhadap pemerintah sekuat tenaga. Tapi Al-Banna melarang dengan tegas rencana tersebut dan menjelaskan akibat buruk yang akan ditimbulkannya.

Ia mengingatkan para pemuda itu dengan kisah Nabi Sulaiman saat menyelesaikan persoalan dua wanita yang memperebutkan seorang bayi. Masing-masing bersikeras dan mengklaim bayi itu adalah anaknya. Karena itu, Nabi Sulaiman memutuskan agar anak tersebut dibelah menjadi dua. Wanita yang tidak melahirkan anak itu setuju mendapat separuh bagian, sedang wanita yang melahirkan anak itu tidak setuju. Ia kemudian merelakan bagiannya diberikan kepada lawannya, agar buah hatinya tetap hidup.

Setelah itu Hasan Al-Banna berkata kepada para pemuda yang berniat melakukan pemberontakan, “Kita sekarang menjalankan peran seperti yang dilakukan sang ibu sejati”.

******

Sikap bijak Hasan Al-Banna ini mengandung pelajaran penting bagi aktivis dakwah saat ini:

  1. Betapapun demikian besar kebencian dan permusuhan manusia kepada dakwah, hendaknya tidak menghalangi seorang da’i mengambil sikap bijak demi kemaslahatan yang lebih besar dan menjaga diri dan masyarakat umum dari kemudhorotan yang mungkin timbul. Karena substansi dakwah adalah perbaikan dan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Dalam kasus di atas, Hasan Al-Banna lebih memilih bersabar atas penderitaan dibandingkan harus melakukan pemberontakan kepada pemerintahan yang sah walaupun zalim karena memikirkan kepentingan yang lebih besar bagi masyarakat umum.
  2. Dakwah membutuhkan pemimpin yang memiliki hikmah dan tafaqquh fiddin (memahami agama). Sehingga gerakan dakwah akan terbimbing dengan benar ke arah tujuannya.
  3. Dakwah Islam itu dilandasi kasih sayang dan jauh dari tindakan anarkhisme atau kekerasan. Tentu saja bukan berarti sifat tegas dan pembelaan diri harus dihapuskan dalam diri para mujahid dakwah. Hanya saja itu harus ditempatkan dan dipertimbangkan secara proporsional.

Semoga Allah SWT selalu membimbing dan melindungi kita dalam perjuangan dakwah ini.

Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (QS. Huud: 88)