Syamsudin Kadir

Ruang gerakan dakwah dari waktu ke waktu membentang semakin lebar. Ibarat bendera, kibarannya bergerak semakin kencang. Jelas kita berhadapan dengan dua kenyataan: semakin luas perkembangan semakin luas fitnah dan tantangan. Kita bisa menetapkan dua peran dalam hal ini, menjadi pengamat yang suka berkomentar atau pelaku yang produktif memberikan kontribusi.

Pertanyaan paling tepat bagi aktivis dakwah terhadap kondisi yang dihadapi saat ini bukanlah “siapakah yang telah berprestasi sehingga gerakan dakwah berkembang hari ini?”, melainkan, “siapakah yang bertanggung jawab atas perkembangan dakwah saat ini dan di masa depan?”. Dua pertanyaan tersebut menggambarkan persepsi kita dalam memandang diri. Ketika gerakan dakwah ini kita pandang sebagai kebutuhan, maka sepesat apapun perkembangan yang dicapai tidak membuat kita menuntut ‘penghargaan’. Karena yang mesti kita adalah fokuskan adalah bagaimana beramal menjawab tuntutan atas perkembangan tersebut.

Mari petakan diri, berada pada persepsi seperti apakah diri kita? Inilah saatnya kita diuji dalam memaknai pemahaman amal jama’i, ya kerja kolektif kita. Kenyataan menyuguhkan bahwa agenda gerakan dakwah dari waktu ke waktu berkembang berkali lipat. Akan tetapi faktor manusiawi seringkali menjadi jalan masuk syetan melemahkan kita. Ter­utama saat kita melihat aktivis berubah gaya dan penampilan karena amanah barunya. Kita kemudian mem­bangun pamrih dengan menghitung prestasi.

Untuk siapapun yang masih terjebak dalam kungkungan fitnah itu, berhenti­lah dari kungkungan itu, inilah saatnya membuk­tikan semua komitmen dan pemahaman. Ingatlah, semakin tinggi ke­dudukan, semakin kencang angin menerpa. Sadarilah bahwa dalam perkembangan dakwah saat ini, semua level mengalami tekanan ‘angin’ yang sama kualitasnya, dalam bentuknya masing-masing”. Jangan pernah berhitung secara matematis terhadap amanah yang Allah tetapkan buat kita. Komentar, “antum sih enak, setidaknya amanah antum seka­ligus menyelesaikan masalah keluarga antum. Lha ana gimana…” bukanlah komentar yang tepat. Kita harus menyegarkan pemahaman kita tentang tanggung jawab amal. Tidak ada amanah yang enak dan tidak enak. Amanah datang untuk kita tunaikan. Sebagai apapun kita dalam gerakan dakwah ini, pada semua bagian ruangnya terdapat fitnah dan ujiannya masing-masing.

Kita tentu masih mengingat pernyataan sejati khalifah Rasulullah saw, Abu Bakar ra., ketika upacara pelantik­annya, “Ketahuilah, aku bu­kanlah orang terbaik di antara kamu, akan tetapi aku hanyalah seorang laki-laki seperti kamu, namun Allah menjadikan aku sebagai orang yang  paling berat bebannya di antara kamu.”

Perasaan ini adalah pera­saan yang hanya dimiliki oleh ‘jiwa-jiwa yang bersatu’. Ketika keistimewaan-keistimewaan amanah yang semu itu sudah tidak ada lagi, lalu digantikan oleh sifat tawadhu dan per­saudaraan (ukhuwah), maka tidak ada yang tersisa dari arti kepemimpinan kecuali tinggal bebannya yang berat. Lalu apa bedanya jenis amanah tersebut di hadapan Allah dengan apa yang saat ini menjadi tanggung jawab kita?

Ini adalah gambaran yang seharusnya membuat kita banyak merenung, tidak menambah daftar pertanggung­jawaban di hadapan Allah. Karena semakin tinggi level amanah yang kita emban, hanya akan menyisakan beban yang juga semakin berat. Jika kita bisa komitmen dengan lapang dada dan melihat saudara-saudara kita dengan perasaan cinta karena beratnya beban tersebut, maka ge­rakan dakwah ini tidak akan terbatasi oleh semua jenis penghalangan.

Tuntutan untuk mengambil peran nyata dalam gerakan dakwah adalah sebuah kemutlakan. Perputaran gerakan dakwah dengan segenap perkembangannya menyisakan tanggung jawab yang tidak ringan. Jika kita pernah mendengar atau mangga­ungkan jargon, “beralih dari medan kata-kata kepada medan amal’, maka sekaranglah saat­nya. Inilah masa aqad perda­gangan dengan Allah diikrarkan. Siapakah di antara kita yang akan menjawab seruan Allah,

“…..Maukah engkau Aku tunjukkan kepada perdagangan yang akan menyelamatkan kalian dari azab yang pedih” (Qs. as-Shof:10).

Siapakah di antara kita yang bersungguh-­sungguh menggolongkan dirinya ke dalam jaminan Allah,

“Se­sungguhnya Allah membeli diri dan harta sebagian dari golongan orang-orang yang beriman dengan bayaran surga…….” (Qs. at-Taubah: 111)?

Kita sudah lama mendis­kusikan mengenai banyak tema dan agenda gerakan dakwah ini. Kini tiba saatnya kita meng­amalkan semua pemahaman tersebut. Kini, setiap detik yang kita miliki adalah masa menerapkan semua konsep gerakan yang telah lama kita sistematiskan. Kini di hadapan kita ada hamparan ruang amal yang sangat luas. Hamparan amal tersebut membutuhkan peran kita semua. Ia membutuhkan sentuhan wama dan rasa yang kental dengan nuanasa penghambaan. Kinilah saatnya masuk ke dalam fase lanjut, tentu tanpa melupakan agenda fase sebelum-sebelumnya. Ini semua kita lakukan bukan saja karena kita menjadi bagian dari gerakan dakwah Islam ini, tapi juga sebagai rasa syukur kepada Allah SWT; karena ternyata Ia masih mem­beri kita kesempatan untuk hadir dalam jaman kemudahan ini. Untuk itu, kita mesti menebus kesyukuran tersebut dengan berpacu dalam amal gerakan dakwah secara tuntas.

Saat ini mari meneropong bagian-bagian yang kemarin telah habis-habisan kita gunakan dalam ekspansi gerakan. Bagian­-bagian tersebutlah yang perlu mendapatkan perhatian kreatif dari semua yang mengaku aktivis gerakan dakwah, baik secara perorangan maupun secara kolektif. Dalam pemaparan awal sudah digambarkan tentang ‘kecemburuan’ yang terjadi di kalangan aktivis dakwah. Persepsi yang salah terhadap amanah lahir dari pergeseran orientasi hidup (ittijah) kepada materi atau urusan-urusan duniawi. Ini berdampak pada melemahnya keyakinan akan rezki Allah. Sebagaimana kita ketahui, sepuluh tahun terakhir, semua potensi kita kerahkan untuk meretas jalan gerakan, bahkan juga mulai ekspansi: sebuah penyikapan turunan sebagai gerakan amal. Sampai-sampai ‘over load’, kemudian perlahan muncul dampak melemahnya ittijah (orientasi hidup). Akibatnya keterikatan terhadap agenda gerakan melemah karena sebagian aktivis disibuk­kan urusan ma’isyah (mata pencarihan).

Pergerakan yang intens menuntut penggunaan energi yang tidak sedikit. Aktivis dakwah terlihat berkibar di mana-mana, akan tetapi satu fenomena umum yang menyer­tainya adalah melemahnya amaliah ubudiyah yaumiyah (amal-amal ibadah harian). Banyak aktivis yang kemudian menyelesaikan amal ibadah hariannya pada level yang pas-pasan. Agenda-agenda peningkatan ruhiyah yang disediakan sebagai backup tidak populer di mata para aktivis, selain energi yang ada memang sudah terserap habis. Akhirnya semangat pencapaian muwashafat (target kualitas), seperti yang pernah bergaung keras, mengalami penurunan. Lalu, apalagi yang membuat kita bertahan menghadapi fitnah dan mihnah jika ibadah kita menjadi hal yang harus dikoreksi?

Satu gambaran yang juga laten dalam gerakan ini adalah cara pandang terhadap pembinaan diri. Di beberapa tempat, akti­vitas yang menuntut waktu dan perhatian seringkali mengalah­kan agenda-agenda pembinaan diri. Ada yang izin pertemuan karena amanah di tempat tertentu. Ada yang terlantar karena pembina dan pengelolanya sibuk dengan agendanya masing-masing. Dan semua ini menyebabkan banyak aktivis karbitan. Profil dan style kader sudah sedemikian rapuhnya, akan tetapi lemah dalam penguasaan manhaj gerakan. Inilah kelemahan substansial bagi aktivis. Dampaknya mengancam kelangsungan proses membina dan dibina. Kelemahan-kelemahan tersebut bahkan membuat sebagian aktivis tidak berani menjadi pengelola dan pembina generasi penerusnya. Bahkan bisa menghasilkan perasaan minder yang membuat aktivis madek dalam mengikuti agenda pengkaderan. Fenomena terakhir ini mudah-mudahan sekedar rumor, akibat fatalnya ada kader yang meminta turun jenjang.

Kita juga harus menyikapi pergeseran dalam adab-adab berpakaian dan berbicara aktivis. Perluasan ruang gerakan dakwah berdampak langsung terhadap kulturasi dan infiltrasi nilai dan budaya. Ragam style masuk dan berhimpun dalam ruang gerakan hampir dari semua lapisan. Maka kualitas khuluqiyah menjadi target utama yang harus dipe­lihara. Kasus-kasus di lapangan pada gaya dan prilaku aktivis menjadi agenda yang menuntut penyikapan. Problem lama tentang pencairan hubungan aktivis (ikhwan-akhwat), saat ini seolah menemukan momentum untuk semakin menyeruak. Bahkan ada kesan melemahnya sikap menghormati dan menghargai qiyadah. Hal ini mesti dievaluasi secara tuntas oleh setiap aktivis dakwah. Karena, jika ekspansi gerakan tidak mampu mempertahankan ‘ciri khas’ gerakannya, maka terlalu mahal biaya yang kita keluarkan.

Mudah-mudahan ini sekedar gambaran siklus normal, yang membutuhkan ‘istirahat seje­nak’ setelah ekspansi besar-besaran. Akan tetapi jika keadaan ini tidak segera disikapi, khawatir akan muncul aktivis yang kebablasan, bahkan bukan tidak mungkin akan ada aktivis yang minta cuti dari gerakan dakwah ini. Mudah-mudahan kita semua mampu melampaui itu semua, sebagai kenyataan yang tak perlu diulang, semoga!

Untuk Kita Renungkan

Kenyataan di depan mata cukup gamblang menggambar­kannya. Sudah tidak cukup lagi bagi kita meringankan permasalahan masyarakat dengan bahasa­-bahasa normatif. Ketika mereka mengalami masalah keluarga, bukan pernyataan sabar yang ingin didengar dari kita, melainkan apa bentuk konkrit yang bisa meringankan masalah tersebut.

Inilah tantangan gerakan yang harus dijawab. Bagi aktivis dakwah yang selalu kehabisan motovasi dan rentan kefuturan, bangkitlah! Inilah tanggung jawab yang menuntut banyak kreativitas dan kecerdasan. Inilah ruang kerja yang tidak pernah mengenal kata selesai. Lakukanlah apa yang bisa kita sumbangkan untuk mengisi ruang besar gerakan dakwah ini. Jangan pernah menganggap kecil, sekecil apapun sumbang­sih kita dalam dakwah ini. Sesunggunnya Allah SWT. tidak mengukur pada besar kecilnya amal, melainkan ikhlas dan sempurnanya kita menyele­saikannya.

Medan perjuangan adalah wilayah panjang tanpa akhir, kecuali berujung pada titik kemenangan atau kematian. Medan perjuangan adalah jalan penuh rintangan dan berhiaskan duri juga ujian. Arena panjang yang penuh ujian bukanlah tempat bagi para pencari pengalaman atau bahkan sekedar mengisi waktu luang. Di sini diperlukan para pejuang yang seluruh hidupnya demi agenda perjuangan. Karena kenyataannya, terkadang medan perjuangan dijadikan sebagai tempat mencari keuntungan, kepopuleran dan bahkan uang demi kelangsungan kehidupan. Semakin hari kemenangan perjuangan mulai tampak ke permukaan, segala perih perjuangan akan segera terbayarkan, di saat itulah banyak ujian kesenangan yang akan melalaikan para pejuang ’setengah hati’ seperti peristiwa Perang Uhud yang pada mulanya memperoleh kemenangan.

Saat ini kuncup kemenangan mulai mengembang, geliat gerakanpun mulai menampakkan taringnya. Namun, sesuatu yang terkadang membuat hati tak tenang adalah ketika ada yang terlenakan dengan dinamika kemenangan. Kalaulah yang dilupakan adalah masalah-masalah keduniawian itulah sebuah keharusan. Tapi pada realitanya terkadang kuantitas dan kualitas ibadahpun sudah menjadi agenda yang dilupakan. Semuanya dilakukan karena alasan: ’gerakan sudah tidak menghadapi tantangan yang membahayakan’. Mungkin saat ini strategi ’musuh’ telah pandai, mencuri pelajaran dari peristiwa Uhud yang boleh jadi sering dilupakan para pejuang. Boleh jadi mereka berhasil menghalau para pejuang kemenangan dengan menitipkan pemahaman baru: riya’ dan kesombongan.

Saat ini, kemenangan memang sudah menjadi kenyataan dan nampak dipermukaan bahkan di depan mata siapapun yang menganggapnya sebagai sebuah tantangan. Namun, jangan terlalu sering mengucapkan kemenangan selama masih banyak manusia yang jauh dengan pemilik dan yang memberikan kemenangan: Allah SWT. Karena cita-cita kita bukanlah bagaimana menikmati kekuasaan, tapi bagaimana nilai-nilai kalimat syahadat menjadi aqidah semua manusia, sehingga kita memperoleh ujung perjuangan, yaitu kesyahidan.

Penutup

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.

Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.

Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa di tiap tepi waktu, terlampau banyak ajakan untuk meninggalkan jalan hidup Rasul-Mu. Dan di beberapa tepian waktu itu kami berharap tetap istiqomah. Ya Allah, kami mohon jaga harapan itu sampai akhir hayat kami. Karena tak sedikit yang kehilangan sekedar rasa ‘ingin’ untuk istiqomah. Ya Allah, kuatkankanlah barisan kami, umatmu! []