Intisari ajaran shaum Ramadhan adalah al-imsak (pengendalian diri). Di bulan yang mulia ini Allah SWT memerintahkan kita untuk meninggalkan makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari; padahal 11 bulan sebelumnya hal ini merupakan sesuatu yang halal bagi kita. Namun, shaum Ramadhan adalah latihan keimanan. Ia adalah wahana penguatan jiwa untuk mencapai derajat takwa.

Salah satu nilai ketakwaan yang ditanamkan Ramadhan ke dalam jiwa kita adalah pengendalian diri dari memakan harta yang haram.

Fenomena zaman

Suatu saat Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya,

“Akan datang suatu masa kepada manusia, yang didalamnya manusia tidak kuasa mencari penghidupan melainkan dengan cara maksiat, hingga seseorang berani berdusta dan bersumpah (palsu). Maka apabila masa itu telah datang, hendaklah kalian berlari.” Seorang sahabat bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, kemanakah kami harus berlari?” Rasulullah menjawab, “(Berlarilah) kepada Allah dan kepada kitab-Nya dan kepada sunnah Nabi-Nya”.

Jangan jadi pecundang

Sekelumit percakapan yang dimuat dalam hadits riwayat Ad-Dailami tersebut di atas mengisyaratkan kepada kita tentang suatu masa di mana jiwa manusia sudah begitu lemah dan cengeng menghadapi kehidupan, sehingga tak kuasa mencari sumber ma’isyah (penghidupan) kecuali dengan cara maksiat, sehingga apa yang dimakannya menjadi haram.

Dalam hadits lain Nabi saw menyebut kondisi mental seperti ini dengan sebutan al-wahn (kelemahan jiwa), yakni bersarangnya penyakit hubbud dunya (cinta dunia) dan penyakit karohiyatul maut (takut mati). Penyakit inilah yang menyebabkan banyak manusia menjadi gelap mata, berpikiran sempit, dan tidak mau bekerja keras; ingin untung dari enteng tanpa memperhatikan halal dan haram. Walhasil, korupsi dan kolusi jadi membudaya; aksi tipu menipu semakin marak; perbuatan menyelisihi agama—seperti prostitusi, jual beli miras, judi, industi ‘hiburan’ pornografi dan pornoaksi—nyaris dianggap biasa. Bahkan dianggap sah—tentu saja sah menurut hawa nafsu mereka; bukan sah menurut syariat agama.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya, ”Seandainya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, benar-benar akan hancur langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya…” (QS. 23: 71)

Harta haram mengundang petaka

Memakan harta yang haram—baik haram disebabkan dzat maupun cara mendapatkannya—jelas harus dihindari karena sangat merugikan. Bukan hanya merugikan orang lain tapi juga merugikan diri sendiri.

Kerugian-kerugian yang akan menimpa kepada diri sendiri diantaranya adalah:

Pertama, do’a orang yang memakan harta haram tidak akan dikabul, amalnya tidak akan diterima dan diancam jadi penghuni neraka.

Sa’ad bin Abi Waqash pernah meminta dido’akan Nabi saw agar do’a-do’anya senantiasa dikabul. Maka Nabi bersabda,

”Hai Sa’ad, perbaiki makananmu, tentu do’amu akan dikabulkan. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya hamba yang memasukkan makanan haram di dalam mulutnya tidak akan diterima amalnya selama empat puluh hari. Dan siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari barang haram, neraka lebih utama baginya!” (HR. Thabrani).

Kedua, orang yang memakan harta haram tidak akan dipedulikan Allah, dari pintu yang mana ia akan dimasukkan ke dalam Neraka

Rasulullah bersabda,

”Siapa yang tidak memperdulikan dari mana ia mendapatkan harta, maka Allah tidak akan memperdulikan dari pintu yang mana ia akan dimasukkan ke dalam neraka”. (Hadits Ibnu Umar).

Asal tahu saja, neraka itu ada beberapa pintu, dan setiap pintu memiliki kadar siksaan yang berbeda. Sedangkan orang yang tidak memperhatikan halal dan haram akan dimasukkan Allah SWT ke dalam neraka tanpa dipedulikan melalui pintu yang mana. Naudzubillahi min dzalik!

Ketiga, orang yang memakan harta haram akan diremehkan setan la’natullah ’alaihi. Ia diremehkan karena perbuatan memakan harta haram itu sudah cukup memasukkannya ke dalam neraka dan ibadah yang dilakukannya tidak akan membawa manfaat.

”Sesungguhnya jika ada seseorang yang beribadah, setan akan berkata kepada kawan-kawannya, ’Lihatlah dari mana makanannya’.  Jika makanannya berasal dari yang haram, maka setan berkata, ’Biarkan dia berpayah-payah dan bersungguh-sungguh (beribadah), sungguh telah cukup bagi kalian dirinya itu. Sesungguhnya kesungguhan beribadahnya beserta makan barang haram tidak akan membawa manfaat”. (HR. Muslim)

Kiat-kiat Memelihara diri dari sumber penghasilan yang haram

  1. Iman kepada Allah sebagai Ar-Razaq (Maha Pemberi Rizki).
  2. Memohon pertolongan dan perlindungan Allah dalam setiap gerak langkah kehidupan.
  3. Menghiasi diri dengan sifat sabar dan tangguh; syukur dan qona’ah.
  4. Mengenal hakikat kesenangan dunia yang semu dan sementara, serta selalu mengingat kampung akhirat negeri yang abadi dan hakiki; agar selamat dari tipu daya syaithan.
  5. Bermujahadah meraih ketakwaan; karena dengan syarat ketakwaanlah Allah menjadikan jalan keluar dari setiap problematika manusia dan memberikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka.
  6. Bekerja keras dan tak kenal menyerah
  7. Selalu berupaya menambah ilmu (keterampilan) dan pengetahuan (melek informasi)
  8. Tidak memisahkan diri dari jama’ah mu’minin (berukhuwah islamiyah)

Semoga Allah menanamkan jiwa takwa ke dalam diri kita dan senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus yang diridhoi-Nya. Amin…

Maraji:

Al-Qur’anul Karim

Etika Islam, Miftah Faridl, Pustaka: Bandung

Kurikulum Tarbiyah Islamiyah, Tim Raudhatul Jannah: Jakarta

Ramalan-ramalan Rasulullah Tentang Akhir Zaman, Ali Hamdi Muda’im, CV. Bintang Pelajar

About these ads